Mengawal Kualitas Gizi dan Tata Kelola MBG Ramadan

Oleh: Dwi Saputri*)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak sekadar menjadi instrumen pemenuhan kebutuhan nutrisi anak, tetapi juga representasi komitmen negara dalam membangun generasi sehat dan produktif. Memasuki bulan Ramadan, pelaksanaan MBG menghadapi tantangan adaptif yang tidak ringan, mulai dari penyesuaian waktu distribusi, komposisi menu, hingga pengawasan kualitas pangan. Dalam konteks ini, penguatan standar gizi dan tata kelola yang transparan menjadi krusial agar program tetap berjalan efektif, akuntabel, dan selaras dengan kebutuhan peserta didik yang menjalankan ibadah puasa.
Momentum Ramadan sekaligus menjadi ujian bagi konsistensi pemerintah daerah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam menjaga kualitas layanan MBG. Pengawasan lintas sektor, keterlibatan ahli gizi, serta mekanisme distribusi yang higienis dan tepat sasaran harus diperkuat agar program tidak sekadar bersifat administratif, melainkan benar-benar berdampak pada ketahanan gizi anak. Tanpa tata kelola yang adaptif dan pengendalian mutu yang ketat, tujuan besar MBG dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia berisiko tereduksi oleh persoalan teknis di lapangan.
BGN sebagai leading sector teknis yang bertanggung jawab pada pelaksanaan program MBG berkomitmen terus meningkatkan mutu untuk menanggapi banyaknya pemberitaan terkait menu dalam program MBG pada awal Ramadhan yang dinilai masyarakat masih belum memenuhi angka kecukupan gizi (AKG).
Kepala BGN, Dadan Hindayana mengatakan pihaknya memastikan bahwa pelaksanaan MBG Ramadan tetap sesuai standar gizi, tepat sasaran, dan transparan dari sisi penggunaan anggaran. Serta mengingatkan agar mitra tidak memaksakan penggunaan bahan baku yang sudah dalam kondisi kurang baik karena persoalan ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di ruang publik.
Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menjelaskan menu MBG kini diganti menjadi menu kering agar bisa dibawa pulang untuk berbuka. Pihaknya memastikan menu kering dalam program MBG selama Ramadan 1447 Hijriah tetap memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan, karena setiap setiap paket MBG harus mengandung unsur gizi penting seperti protein, karbohidrat, dan serat, yang telah dihitung berdasarkan standar kebutuhan gizi oleh tim ahli di masing-masing SPPG.
Perubahan bentuk menu dilakukan untuk menjaga daya tahan dan keamanan pangan hingga waktu berbuka, tanpa mengabaikan prinsip kecukupan gizi. Dengan berbagai penegasan tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa adaptasi teknis selama Ramadan
