Ketika Dunia Bergejolak, Swasembada Pangan Adalah Solusi

Oleh: Dhita Karuniawati )*
Di tengah dinamika global yang terus bergerak cepat, isu ketahanan dan kedaulatan pangan semakin menegaskan pentingnya kesiapan setiap negara dalam memastikan kebutuhan dasar rakyatnya terpenuhi secara mandiri. Indonesia menunjukkan ketangguhan dengan menjadikan swasembada pangan sebagai prioritas strategis nasional. Ketahanan pangan tidak lagi diposisikan sekadar sebagai agenda sektoral, melainkan sebagai fondasi utama dalam menjaga stabilitas, memperkuat kemandirian, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ketergantungan pada impor pangan di tengah ketidakpastian global mengandung risiko besar. Ketika negara-negara produsen membatasi ekspor demi melindungi kebutuhan dalam negerinya, negara pengimpor akan menghadapi lonjakan harga bahkan ancaman kelangkaan. Pelajaran dari berbagai krisis global menunjukkan bahwa pasokan pangan dapat dengan mudah terganggu oleh faktor eksternal yang berada di luar kendali nasional. Oleh karena itu, kemampuan untuk memproduksi dan memenuhi kebutuhan pangan sendiri menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi dan sosial.
Swasembada pangan pada hakikatnya bukan hanya tentang angka produksi yang tinggi, tetapi tentang membangun sistem yang tangguh dari hulu hingga hilir. Mulai dari ketersediaan benih, pupuk, irigasi, hingga distribusi dan cadangan pangan pemerintah, semuanya harus terintegrasi secara efektif. Upaya ini menuntut sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, pelaku usaha, serta dukungan teknologi pertanian modern. Ketika seluruh elemen ini bergerak bersama, ketahanan pangan tidak lagi menjadi konsep abstrak, melainkan realitas yang dapat dirasakan masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyoroti pentingnya kemandirian pangan di tengah situasi geopolitik global yang semakin tegang. Menurutnya, swasembada pangan menjadi kunci agar Indonesia tidak bergantung pada negara lain.
Beberapa contoh konflik yang disebutkan antara lain yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Zulhas menekankan bahwa situasi ini berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan pasokan pangan dunia. Oleh karena itu, swasembada pangan bukan hanya sekadar program ekonomi, tetapi juga menyangkut kedaulatan negara.
