Hilirisasi dan Kebangkitan Ekonomi Berbasis Komoditas Rakyat

Oleh : Abdul Razak )*
Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa, Indonesia mempercepat agenda hilirisasi sebagai strategi memperkuat fondasi ekonomi nasional. Hilirisasi tidak lagi dipahami semata sebagai pengolahan mineral dan tambang, tetapi diperluas ke sektor kreatif, perkebunan rakyat, hingga energi dan riset teknologi. Pendekatan menyeluruh ini menjadi bagian dari upaya membangkitkan ekonomi berbasis komoditas rakyat agar mampu menjadi penopang pertumbuhan di masa krisis.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya menegaskan hilirisasi produk kreatif lokal menjadi langkah penting agar industri kreatif Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ia menyampaikan bahwa hilirisasi tidak hanya hilirisasi tambang, tetapi juga hilirisasi fashion, kuliner, kriya, dan subsektor kreatif lainnya. Menurutnya, produk-produk yang sebelumnya didominasi impor harus digantikan oleh brand lokal yang memiliki daya saing tinggi di pasar domestik maupun global.
Dijelaskannya bahwa perang geopolitik yang terjadi di Timur Tengah dan kawasan Eropa berpotensi berdampak pada ekspor subsektor fashion, kuliner, dan kriya yang selama ini mencatat kinerja cukup baik. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengantisipasi dampak tersebut melalui kebijakan hilirisasi produk lokal agar produktivitas UMKM meningkat dan perputaran ekonomi tetap terjadi di dalam negeri. Ia menekankan pentingnya menjaga pasar domestik agar diisi oleh produk dan merek lokal sebagai fondasi ketahanan ekonomi nasional.
Dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perbankan, akademisi, dan asosiasi menjadi kunci keberhasilan strategi tersebut. Sistem pemasaran berbasis digital dan penguatan literasi digital juga menjadi instrumen penting dalam memperluas jangkauan pasar UMKM. Program pelatihan seperti Emak-Emak Matic dan Genmatic yang berkolaborasi dengan platform belanja daring diharapkan mampu mempercepat transformasi digital pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia. Ia berharap industri kreatif dan UMKM dapat menjadi tulang punggung perekonomian nasional di tengah tekanan global.
Di sektor agraris, arah hilirisasi juga diperkuat melalui kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang memerintahkan pengembangan tujuh komoditas perkebunan rakyat. Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian, Hendratmojo Bagus Hudoro, menyebut komoditas tersebut meliputi tebu, kelapa, kopi, lada, kakao, jambu mete, dan pala yang hampir 90 persen dikelola oleh perkebunan rakyat.
