Hilirisasi Ragam Komoditas, Strategi Rasional di Tengah Ketidakpastian Global
Oleh : Bara Winatha*)
Ketidakpastian ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir mendorong banyak negara untuk memperkuat fondasi ekonominya melalui strategi yang lebih mandiri dan berbasis nilai tambah. Bagi Indonesia, salah satu pendekatan yang semakin menonjol adalah kebijakan hilirisasi komoditas. Kebijakan ini tidak lagi dipahami sekadar sebagai upaya meningkatkan nilai tambah sektor mineral, melainkan sebagai strategi ekonomi nasional yang mencakup berbagai sektor produksi, mulai dari sumber daya alam, komoditas pertanian, hingga produk industri kreatif. Hilirisasi ragam komoditas menjadi strategi rasional untuk memperkuat daya tahan ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan struktur perdagangan global.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya mengatakan bahwa pemerintah mendorong hilirisasi produk kreatif lokal agar industri kreatif Indonesia mampu berkembang lebih kuat dan menjadi tuan rumah di pasar domestik. Ia menjelaskan bahwa konsep hilirisasi tidak seharusnya hanya melekat pada sektor tambang atau industri ekstraktif, tetapi juga harus diperluas pada sektor-sektor kreatif seperti fashion, kuliner, dan kriya yang memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja serta menciptakan nilai ekonomi baru.
Teuku menilai bahwa situasi geopolitik global yang tidak stabil, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah dan Eropa, berpotensi memengaruhi kinerja perdagangan internasional. Kondisi tersebut dapat berdampak pada sektor ekonomi kreatif Indonesia yang selama ini memiliki pasar ekspor cukup kuat di wilayah-wilayah tersebut. Oleh karena itu, strategi hilirisasi produk kreatif menjadi langkah penting untuk memperkuat pasar domestik sekaligus menjaga keberlanjutan industri kreatif nasional.
Menurutnya, hilirisasi pada sektor kreatif tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga mencakup penguatan ekosistem pemasaran, inovasi desain, dan digitalisasi distribusi produk. Dengan memanfaatkan platform digital dan program pelatihan literasi digital bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, produk-produk lokal dapat menjangkau pasar yang lebih luas di dalam negeri. Pendekatan ini sekaligus memperkuat posisi brand lokal agar mampu bersaing dengan produk impor yang selama ini mendominasi pasar domestik.
Di sisi lain, pendekatan hilirisasi juga terus berkembang dalam sektor sumber daya alam dan komoditas strategis. Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas mengatakan bahwa pembangunan fasilitas pemurnian tembaga di Gresik merupakan bagian dari strategi nasional untuk menciptakan nilai tambah industri mineral di dalam negeri. Ia menjelaskan bahwa pengoperasian smelter tembaga di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Port Estate menjadi tonggak penting dalam memperkuat rantai nilai industri mineral nasional.
Tony menilai bahwa selama bertahun-tahun Indonesia terlalu bergantu
