Kebijakan WFA Jadi Solusi Arus Balik Sekaligus Tekan Konsumsi BBM

Oleh : Zainudin Siregar )*

Tekanan global akibat lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka 100 dollar AS per barel mendorong pemerintah Indonesia untuk mencari terobosan baru dalam mengendalikan konsumsi energi, salah satunya melalui kebijakan work from anywhere atau WFA yang dinilai mampu menjadi solusi ganda, yakni mengurai kepadatan arus balik sekaligus menekan penggunaan bahan bakar minyak di dalam negeri.

Dalam konteks ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat, langkah pemerintah mengkaji kebijakan WFA tidak hanya sekadar respons jangka pendek, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas dalam menjaga ketahanan energi nasional. Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Alfons Manibui melihat bahwa upaya ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam merespons dinamika global yang berpotensi berdampak langsung terhadap stabilitas energi domestik. Menurut Alfons Manibui, langkah yang ditempuh pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menjadi sinyal kuat bahwa pengelolaan energi tidak lagi hanya berfokus pada sisi pasokan, tetapi juga menyentuh aspek konsumsi yang selama ini cenderung kurang mendapat perhatian.

Alfons Manibui menilai kebijakan WFA yang tengah dikaji merupakan bentuk inovasi kebijakan yang relevan dengan kondisi saat ini. Ia memandang bahwa dalam situasi harga minyak dunia yang terus bergejolak akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, pemerintah perlu memiliki skenario alternatif yang mampu menahan laju konsumsi energi, khususnya BBM. Dengan mengurangi mobilitas masyarakat melalui kebijakan kerja jarak jauh, konsumsi bahan bakar dapat ditekan secara signifikan tanpa harus mengganggu aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengakui bahwa pemerintah memang sedang menyiapkan berbagai opsi efisiensi energi, termasuk mempertimbangkan penerapan work from home maupun WFA. Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa seluruh kemungkinan masih dalam tahap kajian, namun arah kebijakan yang diambil tetap berorientasi pada penghematan energi nasional. Baginya, pengendalian konsumsi BBM menjadi aspek penting yang tidak bisa diabaikan, terutama ketika harga minyak dunia melampaui asumsi yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2026.

Bahlil Lahadalia juga memberikan gambaran bahwa kenaikan harga minyak dunia merupakan konsekuensi dari dinamika geopolitik yang sulit dikendalikan oleh satu negara saja. Harga minyak mentah yang kini berada di atas 100 dollar AS per barel jauh melampaui asumsi APBN yang hanya berada di kisaran 70 dollar AS per barel. Selisih ini tentu memberikan tekanan besar terhadap beban subsidi energi yang harus ditanggung negara. Oleh karena itu, menurut Bahlil Lahadalia, langkah efisiensi menjadi pilihan rasional untuk menjaga stabilitas fiskal sekaligus memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat tetap terjamin.