Tak Naiknya BBM di Tengah Gejolak Global: Ketenangan dan Kewaspadaan Jadi Kunci Bangsa

Oleh : Abdul Razak)*

Di tengah tekanan global akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik geopolitik, pemerintah Indonesia memilih kebijakan strategis dengan menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 April 2026. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa stabilitas ekonomi domestik tetap menjadi prioritas utama.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah mendorong harga minyak dunia naik signifikan. Dalam situasi seperti ini, banyak negara memilih menaikkan harga BBM untuk menyesuaikan dengan harga pasar. Namun Indonesia justru mengambil pendekatan berbeda, yakni menjaga harga tetap stabil guna melindungi daya beli masyarakat.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menjelaskan bahwa selisih antara harga perekonomian dan harga jual BBM non-subsidi sementara ditanggung oleh PT Pertamina (Persero). Ia menyampaikan bahwa kebijakan ini masih dapat dijalankan karena kondisi keuangan Pertamina yang stabil, didukung oleh pembayaran kompensasi pemerintah yang kini dilakukan secara rutin setiap bulan.

Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa kemampuan keuangan Pertamina saat ini masih cukup kuat karena aliran pembayaran dari pemerintah berjalan lancar. Ia menambahkan bahwa sekitar 70 persen kompensasi dibayarkan secara berkala, sehingga untuk jangka pendek beban tersebut masih dapat ditanggung tanpa mengganggu kesehatan keuangan perusahaan.

Sebagai gambaran, harga keekonomian BBM jenis Pertamax diperkirakan telah mencapai sekitar Rp17.850 per liter. Namun harga jualnya tetap dipertahankan di kisaran Rp12.300 per liter. Selisih sekitar Rp5.500 per liter inilah yang menjadi beban tambahan yang harus diserap oleh Pertamina.

Di sisi lain, kebijakan ini turut mencerminkan komitmen kuat pemerintah dalam menjaga stabilitas ekon