Aman Bukan Berarti Boros: Saatnya Hemat Energi
Oleh: Bara Winatha *)
Pemerintah Indonesia terus mendorong transformasi besar dalam budaya kerja dan kebijakan energi sebagai respons terhadap dinamika global yang semakin kompleks. Ketahanan energi tidak lagi hanya dipandang sebagai soal ketersediaan pasokan, tetapi juga berkaitan erat dengan pola konsumsi masyarakat yang harus lebih efisien dan berkelanjutan. Muncullah kesadaran baru bahwa kondisi stok energi yang aman bukanlah alasan untuk bersikap boros, melainkan momentum untuk memperkuat disiplin dalam penggunaan energi secara bijak.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan bahwa berbagai inisiatif daerah dalam menghemat energi patut diapresiasi sebagai langkah konkret menuju perubahan budaya nasional. Ia memandang gerakan sederhana seperti penggunaan sepeda untuk berangkat kerja bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari transformasi pola pikir masyarakat terhadap konsumsi energi. Langkah tersebut tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan.
Lebih jauh, situasi geopolitik global saat ini justru memberikan peluang bagi Indonesia untuk mempercepat perubahan perilaku dalam penggunaan energi. Ia menjelaskan bahwa efisiensi dalam bekerja dan bertransportasi harus menjadi bagian dari gaya hidup baru masyarakat modern. Transformasi ini juga mencakup sistem kerja secara keseluruhan, termasuk dalam birokrasi pemerintahan dan sektor swasta.
Kebijakan Work From Home (WFH) yang diterapkan bagi aparatur sipil negara menjadi salah satu langkah nyata dalam mengurangi mobilitas yang berlebihan. Dengan mengurangi perjalanan harian, konsumsi bahan bakar dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, kebijakan ini juga mendorong percepatan digitalisasi dalam tata kelola pemerintahan. Penggunaan teknologi menjadi kunci dalam menjaga produktivitas tanpa harus bergantung pada mobilitas fisik yang tinggi.
Sementara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa transformasi budaya kerja ini dirancang sebagai langkah adaptif dan preventif dalam menghadapi ketidakpastian global. Ia menekankan bahwa efisiensi energi tidak hanya berkaitan dengan pengurangan konsumsi, tetapi juga dengan optimalisasi sistem kerja yang lebih cerdas dan berbasis digital. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi besar untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Airlangga juga menjelaskan bahwa pemerintah telah m
