MBG Tepat Sasaran: Pendekatan Berbasis Kebutuhan dalam Kebijakan Gizi

makan bergizi gratis.jpg 696x464

Oleh: Bara Winatha *)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah terus diperkuat, baik dari sisi pelaksanaan maupun arah kebijakannya. Salah satu hal yang kini menjadi perhatian adalah pentingnya pendekatan berbasis kebutuhan, agar program ini benar-benar menjangkau kelompok yang paling membutuhkan. Dengan memprioritaskan anak-anak yang mengalami kekurangan gizi serta keluarga kurang mampu, langkah ini dinilai lebih tepat sasaran dalam meningkatkan kualitas gizi nasional sekaligus memastikan penggunaan anggaran negara tetap efektif dan optimal.

Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Lina Miftahul Jannah, mengatakan bahwa penajaman sasaran program MBG merupakan momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaannya. Ia menilai bahwa program ini memang sejak awal ditujukan untuk membantu kelompok yang memiliki keterbatasan dalam mengakses makanan bergizi, baik karena faktor ekonomi maupun keterbatasan akses geografis. Oleh karena itu, menurutnya, langkah untuk memfokuskan MBG kepada anak-anak kurang gizi merupakan kebijakan yang tepat dan sejalan dengan tujuan dasar program tersebut.

Lina menjelaskan bahwa kelompok sasaran MBG seharusnya mencakup anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri. Selain itu, anak-anak yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan akses terhadap pangan bergizi juga perlu menjadi prioritas. Ia menekankan bahwa pendekatan berbasis kebutuhan akan membuat program lebih efektif karena intervensi dilakukan pada kelompok yang benar-benar membutuhkan.

Pendekatan berbasis kebutuhan juga mendapat dukungan dari akademisi lainnya. Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Eko Prasojo, mengatakan bahwa kebijakan untuk memfokuskan MBG pada anak kurang gizi dan keluarga kurang mampu merupakan langkah yang tepat dalam mencegah pemborosan anggaran negara. Ia menilai bahwa program yang bersifat universal berpotensi menghasilkan ketidakefisienan, seperti makanan yang tidak terpakai atau tidak memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan gizi.

Eko menjelaskan bahwa dengan target yang lebih terukur, program MBG dapat memberikan dampak yang lebih nyata dalam mengurangi angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan anak. Kejelasan sasaran akan membantu pemerintah dalam merancang intervensi yang lebih tepat, baik dari sisi jumlah, kualitas, maupun distribusi makanan yang diberikan. Menurutnya, salah satu langkah penting dalam mendukung pendekatan ini adalah penggunaan data berbasis wilayah terkecil, seperti desa dan kelurahan.