No Panic Mode: Cara Indonesia Jaga Ekonomi di Tengah Tekanan Global
*) Oleh : Arya Wicaksana
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik Timur Tengah hingga fluktuasi harga komoditas, Indonesia menunjukkan sikap yang relatif tenang dan terukur. Alih-alih terjebak dalam kepanikan, pemerintah dan pelaku ekonomi memilih pendekatan No Panic Mode dengan fokus pada stabilitas dan keberlanjutan. Sikap ini bukan berarti mengabaikan risiko, melainkan mencerminkan kesiapan dalam menghadapi tekanan dengan strategi yang matang. Dalam konteks ini, ketenangan menjadi kekuatan tersendiri untuk menjaga kepercayaan pasar dan masyarakat.
Salah satu kunci dari pendekatan ini adalah penguatan fundamental ekonomi domestik. Indonesia tidak hanya bergantung pada faktor eksternal, tetapi terus mendorong konsumsi dalam negeri sebagai motor utama pertumbuhan. Dengan jumlah penduduk yang besar dan daya beli yang relatif terjaga, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang stabilitas ekonomi. Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga inflasi agar tetap terkendali, sehingga masyarakat tidak merasakan tekanan yang berlebihan dalam kehidupan sehari-hari.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dalam menghadapi tekanan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah. Bank Indonesia tetap mempertahankan BI Rate pada level 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Keputusan ini konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.
Saat ini, kebijakan yang diambil cenderung hati-hati namun tetap adaptif. Pemerintah menjaga keseimbangan antara belanja negara dan pendapatan, sehingga defisit anggaran tetap dalam batas aman. Program-program prioritas tetap dijalankan, terutama yang berkaitan dengan perlindungan sosial dan pembangunan infrastruktur. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa roda ekonomi terus berputar, sekaligus memberikan jaring pengaman bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Sementara itu, dari sisi moneter, stabilitas nilai tukar menjadi perhatian utama. BI mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga rupiah agar tidak bergejolak secara berlebihan. Intervensi di pasar valuta asing dilakukan secara terukur, disertai dengan kebijakan suku bunga yang mempertimbangkan kondisi global dan domestik. Tujuannya jelas, yaitu menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan likuiditas tetap tersedia di dalam negeri.
Selain kebijakan makro, penguatan sektor riil juga menjadi bagian penting dari strategi No Panic Mode ini. Pemerintah mendorong hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, terutama di sektor sumber daya alam. Dengan tidak hanya mengekspor bahan mentah, Indonesia dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar sekaligus menciptakan lapangan kerja. Langkah ini juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap pasar global yang seringkali tidak stabil.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan
