Stabilitas Pangan dan Energi Diperkuat lewat Bijak Konsumsi

Oleh Rianti Asmara )*
Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, penguatan stabilitas pangan dan energi menjadi agenda strategis yang tidak bisa ditawar. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta ketidakpastian ekonomi dunia telah memberikan sinyal kuat bahwa setiap negara, termasuk Indonesia, harus memperkuat ketahanan domestiknya. Oleh sebab itu, seruan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong bijak konsumsi energi sekaligus memperkuat ketahanan pangan merupakan langkah yang tepat dan relevan. Kebijakan tersebut tidak hanya berorientasi jangka pendek dalam merespons gejolak global, tetapi juga mencerminkan upaya membangun fondasi kemandirian nasional yang berkelanjutan.
Kesadaran untuk menghemat energi, khususnya bahan bakar minyak, menjadi sangat penting di tengah potensi kenaikan harga energi dunia. Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lengah dan harus selalu bersiap menghadapi dampak dari dinamika global. Pandangan ini menunjukkan bahwa stabilitas nasional tidak bisa dilepaskan dari kemampuan negara dalam mengelola konsumsi energi secara efisien. Ketergantungan pada energi fosil yang tinggi tanpa diimbangi perilaku konsumsi yang bijak akan memperbesar beban fiskal, terutama melalui peningkatan subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dukungan dari kalangan akademisi memperkuat urgensi kebijakan tersebut. Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI) Ali Ahmudi menilai bahwa gerakan penghematan bahan bakar memang harus digalakkan secara luas. Ia mengingatkan bahwa situasi global saat ini menuntut masyarakat untuk tidak boros dalam menggunakan energi, termasuk dengan membatasi perjalanan yang tidak mendesak. Hal ini menegaskan bahwa penguatan stabilitas energi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat. Kesadaran kolektif menjadi kunci agar kebijakan penghematan tidak berhenti sebagai imbauan, melainkan menjadi budaya.
Lebih jauh, kebijakan penghematan energi juga perlu diiringi dengan langkah strategis jangka panjang. Transisi menuju energi baru terbarukan menjadi salah satu solusi yang tidak bisa ditunda. Pengembangan biodiesel B50 serta pemanfaatan etanol sebagai bahan bakar alternatif merupakan langkah konkret yang harus terus dipercepat. Upaya ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor energi, tetapi juga memperkuat kedaulatan energi nasional. Dengan demikian, kebijakan hemat energi tidak sekadar bersifat reaktif, melainkan menjadi bagian dari transformasi struktural sektor energi Indonesia.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Peneliti kebijakan publik Institute for Development Policy and Local Partnership (IDP-LP), Riko Noviantoro yang menekankan pentingnya membangun budaya hemat energi dari level individu hingga kelembagaan. Ia menilai bahwa masyarakat perlu didorong untuk menggunakan transportasi umum sebagai bagian dari perubahan perilaku konsumsi energi. Meski tantangan kenyamanan masih menjadi kendala, upaya ini harus terus digalakkan demi kepentingan yang lebih besar. Bahkan, keteladanan dari para pejabat publik dalam menggunakan transportasi umum dinilai dapat menjadi simbol perubahan yang kuat dan efektif.
