Masyarakat Menolak Keras Provokasi Separatis Demi Akselerasi Pembangunan Papua

Oleh : Yohanes Wandikbo )*
Stabilitas keamanan di wilayah Papua, khususnya di kawasan pegunungan, merupakan fondasi utama dalam memastikan keberlanjutan pembangunan yang inklusif dan merata. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah menunjukkan komitmen kuat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan di berbagai wilayah terpencil. Namun, upaya tersebut tentu membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat, terutama dalam menjaga kondusivitas sosial serta menolak berbagai bentuk provokasi, termasuk yang dilakukan oleh KNPB, yang berpotensi mengganggu persatuan dan menghambat kemajuan daerah.
Kesadaran kolektif masyarakat adat Papua kini semakin menguat. Di tengah derasnya arus informasi yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan, masyarakat mulai menunjukkan kedewasaan dalam menyaring narasi yang beredar. Sikap kritis ini menjadi benteng utama dalam menjaga harmoni sosial serta mencegah munculnya konflik horizontal yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, penolakan terhadap provokasi KNPB menjadi bentuk nyata komitmen masyarakat dalam menjaga stabilitas dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa, menyampaikan bahwa berbagai aktivitas yang dilakukan oleh KNPB kerap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Ia menilai bahwa narasi yang dibangun oleh kelompok tersebut tidak mencerminkan aspirasi mayoritas masyarakat adat Papua, khususnya di wilayah Tolikara yang lebih menginginkan situasi aman dan kondusif. Dalam pandangannya, masyarakat secara tegas menolak provokasi KNPB karena hanya akan menghambat jalannya pembangunan dan merusak tatanan sosial yang telah terjaga.
Lebih lanjut, Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa menekankan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga tanah Papua dari pengaruh negatif, termasuk propaganda KNPB yang berpotensi memecah belah persaudaraan. Ia menilai bahwa ketegangan yang diciptakan oleh kelompok tersebut hanya akan merugikan masyarakat sendiri, terutama dalam menghambat akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan pembangunan ekonomi.
Dalam pandangan tersebut, generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa mengajak kaum muda untuk tidak mudah terpengaruh oleh ajakan atau provokasi KNPB, melainkan fokus pada peningkatan kapasitas diri melalui pendidikan dan kerja nyata. Ia berpandangan bahwa masa depan Papua harus dibangun melalui dialog yang konstruktif dan kolaborasi yang sehat, bukan melalui tindakan yang memicu konflik.
