Efisiensi MBG: Menjaga Manfaat, Menguatkan Fiskal

Oleh: Asep Faturahman)*
Pemerintah terus mengupayakan keseimbangan antara keberlanjutan program sosial dan kesehatan fiskal negara melalui langkah efisiensi pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan ini dirancang tidak hanya untuk menghemat anggaran, tetapi juga memastikan manfaat program tetap dirasakan secara optimal oleh masyarakat luas. Efisiensi menjadi pendekatan strategis dalam menghadapi tekanan ekonomi global, sekaligus memperkuat fondasi fiskal nasional.
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa efisiensi pelaksanaan MBG berpotensi menghemat anggaran hingga Rp40 triliun per tahun. Potensi tersebut berasal dari penyesuaian hari operasional program, yang diusulkan menjadi lima hari dalam sepekan dari sebelumnya enam hari. Langkah ini mencerminkan upaya menjaga efektivitas program tanpa mengurangi substansi manfaatnya bagi penerima.
Kebijakan efisiensi tersebut menegaskan bahwa penguatan fiskal tidak selalu identik dengan pengurangan manfaat. Sebaliknya, pemerintah berupaya memastikan setiap rupiah anggaran digunakan secara lebih tepat sasaran dan efisien. Inisiatif ini juga datang dari Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pelaksana program, yang menunjukkan komitmen institusi dalam mendukung stabilitas keuangan negara melalui pengelolaan program yang adaptif.
Di tengah dinamika global yang memengaruhi perekonomian, efisiensi menjadi instrumen penting untuk menjaga ruang fiskal tetap sehat. Dengan penghematan yang dihasilkan, pemerintah memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengalokasikan anggaran ke sektor strategis lainnya. Hal ini memperkuat daya tahan ekonomi nasional sekaligus memastikan program prioritas tetap berjalan.
Besarnya alokasi anggaran MBG pada tahun 2026 yang mencapai Rp335 triliun menunjukkan skala dan pentingnya program ini. Dari jumlah tersebut, Rp268 triliun disalurkan melalui kementerian dan lembaga, khususnya BGN, sementara Rp67 triliun dicadangkan sebagai langkah antisipatif. Struktur ini mencerminkan kehati-hatian pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi program dan stabilitas fiskal.
Meski usulan pengurangan hari operasional masih dalam tahap awal, pemerintah menegaskan bahwa keputusan akhir akan mempertimbangkan kondisi fiskal secara menyeluruh. Pendekatan ini menunjukkan bahwa efisiensi dilakukan secara terukur, dengan tetap mengedepankan keberlanjutan manfaat program. Dengan demikian, MBG tetap menjadi instrumen penting dalam peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Langkah efisiensi MBG juga menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dalam mendorong efisiensi anggaran di seluruh kementerian dan lembaga. Pemerintah berupaya menciptakan belanja negara yang lebih produktif, efektif, dan berdampak langsung pada masyarakat. Tantangan dalam implementasi tetap ada, namun komitmen untuk menjaga disiplin fiskal terus diperkuat.
Dukungan terhadap kebijakan ini turut disampaikan oleh Anggota Komisi IX DPR RI Pulung Agustanto. Ia menilai efisiensi sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan ekonomi global. Penghematan anggaran dari MBG dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sektor lain, termasuk menjaga daya beli masyarakat dan meredam dampak fluktuasi harga energi.
Selain aspek efisiensi, perhatian terhadap kualitas program juga menjadi bagian penti
