Bijak Gunakan Energi, Jangan Boros di Tengah Tekanan Global

Oleh : Doni Wicaksono )*

Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, isu energi menjadi salah satu perhatian utama banyak negara, termasuk Indonesia. Ketegangan geopolitik karena adanya perang di Timur Tengah, fluktuasi harga minyak dunia, serta meningkatnya permintaan energi secara global telah memberikan tekanan nyata terhadap stabilitas pasokan dan harga energi. Dalam konteks ini, sikap bijak dalam menggunakan energi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan kolektif yang mendesak. Kesadaran untuk tidak boros energi menjadi langkah sederhana namun berdampak besar dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk besar tentu memiliki tantangan tersendiri dalam pengelolaan energi. Kebutuhan energi terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, serta aktivitas industri dan rumah tangga. Namun demikian, pemerintah telah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga ketersediaan energi di tengah tekanan global. Berbagai kebijakan strategis telah diambil untuk memastikan pasokan tetap stabil, termasuk optimalisasi sumber daya dalam negeri serta diversifikasi energi menuju energi baru dan terbarukan. Upaya ini tentu perlu didukung oleh partisipasi aktif masyarakat melalui perilaku hemat energi.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron mengatakan pihaknya mendorong budaya hemat energi secara internal dan mengajak masyarakat ikut berpartisipasi menggunakan energi lebih bijak. Bijak menggunakan energi, terutama Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG), saat ini menjadi gerakan yang mendesak. Upaya ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beberapa waktu lalu untuk memitigasi perang di Timur Tengah yang berdampak pada jalur pasokan energi dunia.

Selain itu, bijak menggunakan energi dapat dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Mematikan lampu dan peralatan listrik saat tidak digunakan, menggunakan perangkat hemat energi, hingga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi adalah contoh konkret yang dapat dilakukan oleh setiap individu. Meskipun terlihat sederhana, jika dilakukan secara kolektif oleh jutaan masyarakat, dampaknya akan sangat signifikan dalam mengurangi konsumsi energi nasional. Lebih dari itu, kebiasaan ini juga dapat membantu menekan pengeluaran rumah tangga, sehingga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.

Di tengah tekanan global yang memengaruhi harga energi, perilaku konsumtif dan boros justru dapat memperburuk keadaan. Ketika permintaan energi meningkat tanpa diimbangi dengan efisiensi, maka tekanan terhadap pasokan akan semakin besar. Hal ini berpotensi memicu kenaikan harga yang pada akhirnya berdampak pada seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, kesadaran untuk menggunakan energi secara bijak harus menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Edukasi dan literasi energi perlu terus diperkuat agar masyarakat memahami bahwa setiap tindakan kecil memiliki kontribusi besar terhadap stabilitas energi nasional.

Sementara itu, Direktur The Climate Reality Project Indonesia, Amanda Katili Niode mengatakan isu bijak menggunakan BBM seharusnya bukan lagi sekadar wacana, melainkan harus menjadi realitas yang harus dijalani. Pihaknya mendukung kampanye penggunaan BBM secara bijak. Namun, juga mengingatkan bahwa “bijak” bukan berarti membatasi secara kaku, melainkan menggunakan energi dengan kesadaran penuh.

Selain itu, momentum ini juga menjadi peluang untuk mempercepat transisi menuju energi yang lebih ramah lingk