MBG: Dari Program Sosial ke Penggerak Lapangan Kerja

Oleh : Rivka Mayangsari*)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menunjukkan transformasi signifikan, dari sekadar kebijakan sosial menjadi instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Di tengah upaya pemerintah memperkuat kesejahteraan masyarakat, MBG hadir tidak hanya sebagai solusi pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai penggerak roda ekonomi yang melibatkan berbagai sektor secara luas.

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menegaskan bahwa program MBG memiliki potensi besar dalam memperkuat sirkulasi ekonomi lokal. Ia mendorong keterlibatan aktif pedagang pasar tradisional dan pelaku usaha dalam rantai pasok program tersebut. Menurutnya, dengan melibatkan lebih banyak pihak, manfaat ekonomi dari MBG dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.

Kota Medan sendiri memiliki 52 pasar tradisional yang berada di bawah pengelolaan BUMD, yang dapat menjadi basis distribusi dan penyedia bahan pangan untuk program MBG. Keterlibatan pedagang di pasar-pasar ini tidak hanya meningkatkan pendapatan mereka, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi lokal yang berbasis kerakyatan.

Rico Tri Putra Bayu Waas menekankan pentingnya dukungan sistem koordinasi data yang real-time dalam memastikan distribusi kebutuhan pangan berjalan secara efektif dan tepat sasaran. Dengan sistem yang terintegrasi, pemerintah dapat memantau kebutuhan secara akurat sekaligus membuka peluang partisipasi yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.

Lebih jauh, ia menyoroti bahwa program MBG harus dipandang sebagai penggerak ekonomi masyarakat, bukan semata-mata program bantuan sosial. Dengan meningkatnya kebutuhan pangan dalam program ini, berbagai sektor mulai dari produksi hingga distribusi akan ikut terdorong. Hal ini menciptakan efek berantai yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal.

Salah satu aspek penting yang juga ditekankan adalah keterlibatan tenaga kerja lokal di setiap titik layanan MBG. Menurut Rico Tri Putra Bayu Waas, hal ini tidak hanya membuka lapangan pekerjaan baru, tetapi juga mempererat hubungan sosial di lingkungan masyarakat. Program ini menjadi sarana kolaborasi yang memperkuat solidaritas sekaligus meningkatkan kesejahteraan bersama.

Dalam praktiknya, kebutuhan pangan untuk program MBG terus meningkat secara signifikan. Sebagai contoh, kebutuhan telur yang diproyeksikan mencapai jutaan butir per bulan menunjukkan skala besar dari program ini. Kondisi ini menuntut kesiapan pasokan yang terencana serta sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan penyedia bahan pangan.

Dukungan terhadap program MBG juga datang dari kalangan mahasiswa. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kota Bogor, Moeltazam, menyatakan bahwa MBG merupakan kebijakan yang memiliki dampak luas dan berkelanjutan. Ia menilai program ini bukan hanya membantu masyarakat dalam pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi rakyat.

Menurut Moeltazam, MBG memiliki efek berganda atau *multiplier effect* yang signifikan. Program ini melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari petani sebagai produsen bahan pangan, pedagang sebagai distributor, hingga pelaku logistik yang memastikan kelancaran distribusi. Keterlibatan ini membuka peluang kerja baru sekaligus mempercepat sirkulasi ekonomi dari hulu ke hilir.

Efek berganda tersebut menjadi bukti bahwa program MBG mampu menciptakan dampak ekonomi yang