Sekolah Rakyat: Dari Akses Pendidikan ke Lompatan Masa Depan

Oleh: Dhita Karuniawati )*
Program Sekolah Rakyat hadir sebagai salah satu terobosan penting dalam memperluas akses pendidikan bagi kelompok masyarakat yang selama ini berada di pinggiran sistem. Lebih dari sekadar membuka pintu belajar, Sekolah Rakyat mencerminkan upaya negara dalam membangun fondasi mobilitas sosial yang lebih adil, sekaligus mendorong lahirnya generasi baru yang mampu melompat lebih jauh ke masa depan.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu ketimpangan akses pendidikan masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Anak-anak dari keluarga prasejahtera kerap menghadapi hambatan struktural, mulai dari keterbatasan biaya, akses geografis, hingga minimnya dukungan lingkungan belajar. Di tengah situasi ini, Sekolah Rakyat dirancang sebagai jawaban konkret yang tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga transformatif.
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan bahwa arahan Presiden Prabowo Subianto menargetkan siswa Sekolah Rakyat mencapai 100.000 pada tahun 2027. Tahun ini, alokasi peserta ditargetkan menembus lebih dari 30 ribu siswa. Jika seluruh target terealisasi, total penerima manfaat pada 2026 diproyeksikan melampaui 46 ribu siswa. Pada tahun 2027 jumlah itu ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 100 ribu siswa.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah menyiapkan pembangunan gedung permanen di lebih dari 100 titik tahun ini. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, setiap kabupaten dan kota ditargetkan memiliki sedikitnya satu Sekolah Rakyat permanen yang mampu menampung sekitar 1.000 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA.
Gus Ipul mengatakan, program Sekolah Rakyat mulai menunjukkan hasil nyata setelah berjalan lebih dari sembilan bulan sejak dimulai pada 14 Juli 2025. Para siswa kini tumbuh lebih percaya diri, disiplin, serta memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
Menurut Gus Ipul, para lulusan Sekolah Rakyat akan terus didampingi hingga dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau menjadi tenaga kerja terampil. Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo terhadap program prioritas ini.
Gus Ipul menjelaskan, tantangan terbesar muncul pada masa awal pelaksanaan program. Dalam dua minggu hingga satu bulan pertama, siswa maupun guru menjalani proses adaptasi dengan sistem sekolah berasrama. Namun, memasuki bulan kedua dan ketiga, ritme pendidikan dan pembelajaran mulai terbentuk dan berjalan semakin baik.
