Global Tidak Pasti, Ekonomi Indonesia Tetap Punya Kendali

Oleh: Bara Winatha *)

Ketidakpastian global yang dipicu oleh dinamika geopolitik, tekanan inflasi dunia, hingga fluktuasi pasar keuangan internasional menjadi tantangan besar bagi banyak negara. Konflik di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah, serta kebijakan moneter negara maju yang agresif, telah menciptakan volatilitas tinggi dalam sistem ekonomi global. Namun di tengah kondisi tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki kemampuan untuk menjaga stabilitas dan mempertahankan momentum pertumbuhan. Hal ini tidak terlepas dari kekuatan fundamental ekonomi domestik serta respons kebijakan yang adaptif dan terukur.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dalam menghadapi tekanan global yang meningkat. Ia menjelaskan bahwa berbagai indikator utama menunjukkan ketahanan ekonomi yang solid, mulai dari inflasi yang tetap terkendali di kisaran target, pertumbuhan ekonomi yang stabil di atas lima persen, hingga nilai tukar rupiah yang relatif terjaga. Kekuatan ini menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan eksternal Indonesia di tengah gejolak global.

Perry juga menyampaikan bahwa stabilitas ekonomi tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari koordinasi erat antara otoritas moneter dan pemerintah. Berbagai langkah strategis yang diambil, termasuk transformasi kebijakan dan efisiensi energi, menjadi bagian penting dalam menjaga daya tahan ekonomi nasional. Kebijakan seperti penguatan budaya kerja, efisiensi konsumsi energi, serta percepatan transisi energi dinilai mampu memperkuat struktur ekonomi dalam jangka panjang.

Dalam menjaga stabilitas nilai tukar, Perry menegaskan bahwa intervensi pasar terus dilakukan secara terukur, baik melalui pasar domestik maupun internasional. Ia juga menyebut cadangan devisa Indonesia berada pada level yang kuat, sehingga mampu menjadi bantalan dalam menghadapi tekanan eksternal. Selain itu, Bank Indonesia juga menjaga likuiditas di pasar uang agar tetap memadai, sehingga aktivitas ekonomi tidak terganggu oleh keterbatasan pembiayaan.

Optimisme serupa juga disampaikan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia memiliki peluang untuk keluar dari pola pertumbuhan stagnan di kisaran lima persen. Ia menjelaskan bahwa capaian pertumbuhan yang telah melampaui angka tersebut menunjukkan adanya tren penguatan yang signifikan. Hal ini menjadi indikasi bahwa ekonomi nasional memiliki potensi untuk tumbuh lebih cepat dalam beberapa tahun ke depan.

Ia juga menjelaskan bahwa stabilitas makroekonomi tetap menjadi prioritas utama dalam mendorong pertumbuhan. Inflasi yang terkendali, defisit fiskal yang dijaga, serta rasio utang yang relatif rendah menjadi faktor penting dalam menjaga kredibilitas ekonomi Indonesia. Selain itu, pemerintah juga memastikan likuiditas dalam sistem ekonomi tetap terjaga agar aktivitas produksi dan investasi dapat berjalan optimal.

Strategi pembangunan ke depan akan difokuskan pada penguatan sektor riil, termasuk industri, infrastruktur, dan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Keberhasilan menjaga stabilitas di tengah tekanan global menjadi modal penting untuk menarik investasi dan memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Sementara itu, dari perspektif pasar dan investasi, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan bahwa meskipun ekonomi global diproyeksikan mengalami perlambatan, dampaknya terhadap Indonesia relatif terbatas. Ia menjelaskan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran lima persen, yang menunjukkan ketahanan dibandingkan negara lain yang mengalami penurunan lebih tajam.