Membantah Narasi Pesimis Barisan Oposisi, Publik Makin Optimistis pada Pemerintahan Prabowo

Oleh: Ardiansyah Pratama, Pengamat Politik dan Kebijakan Publik
Narasi pesimisme yang belakangan digaungkan oleh kelompok yang menamakan diri Barisan Oposisi Indonesia (BOI) patut diuji secara kritis. Di tengah derasnya tudingan terhadap kinerja pemerintahan Prabowo Subianto, fakta-fakta empiris justru menunjukkan arah yang berbeda: penguatan sistem tata kelola negara terus berjalan, dan fondasi ekonomi nasional tetap kokoh. Dalam konteks ini, publik semakin rasional dalam memilah antara kritik konstruktif dan opini yang tidak berbasis data.
Salah satu indikator penting dari keseriusan pemerintah dalam membangun tata kelola yang bersih adalah penguatan reformasi antikorupsi berbasis sistem. Kolaborasi antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan Arsip Nasional Republik Indonesia menjadi contoh konkret bagaimana pencegahan korupsi tidak lagi hanya mengandalkan pendekatan penindakan, melainkan diperkuat melalui sistem administrasi yang transparan dan akuntabel.
Ketua KPK Setyo Budiyanto disebut memandang pengelolaan arsip sebagai fondasi penting dalam membangun sistem pengawasan yang kredibel. Ia menekankan bahwa digitalisasi dan automasi dokumen menjadi agenda strategis ke depan, meski tetap dihadapkan pada kebutuhan menjaga dokumen fisik untuk kepentingan pembuktian hukum. Dengan demikian, reformasi yang dijalankan dinilai menyentuh aspek fundamental, bukan sekadar formalitas kelembagaan.
Di sisi lain, Kepala ANRI Mego Pinandito menggarisbawahi bahwa kualitas kearsipan nasional memiliki korelasi erat dengan efektivitas pengawasan dan potensi risiko korupsi. Ia menilai penurunan indeks pengawasan kearsipan nasional harus dijadikan momentum evaluasi untuk memperkuat sistem pengawasan berbasis data. Dalam pandangannya, intervensi melalui Monitoring Controlling Surveillance for Prevention (MCSP) perlu didorong agar tidak hanya berorientasi administratif, tetapi juga mampu menciptakan integrasi sistem lintas lembaga.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap kekurangan, melainkan menjadikannya sebagai pijakan untuk perbaikan berkelanjutan. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara kritik berbasis data dan kritik yang cenderung membangun persepsi negatif tanpa landasan kuat. Narasi yang dibangun BOI, menurut sejumlah
